Sebelum angka-angka, sebuah tes
Tiga pesan nyata. Untuk masing-masing, tentukan: penipuan, atau asli? Jawab dengan jujur, seolah-olah Anda menerimanya di ponsel Anda sendiri.
Tidak ada salah ketik, tidak ada link, tidak ada tekanan agresif — hanya kasih sayang dan sedikit masalah logistik. Ini persis format penipuan "anak/keluarga dalam kesulitan": nomor baru, permintaan uang yang masuk akal, ajakan berdasarkan kepercayaan keluarga, bukan ketakutan. Tidak ada yang bisa "dikenali" dalam arti klasik — justru itulah yang membuatnya efektif.
Jebakannya ada di detail kecil, mudah terlewat di layar ponsel: jne-pengiriman-paket.com alih-alih domain asli jne.co.id. Nada pesan, format, logika biaya kecil — semuanya terasa masuk akal. Ini persis pola yang sudah lama diperingatkan Bareskrim Polri sebagai salah satu smishing paling umum di Indonesia.
Pesan ini nyata — bank memang mengirim peringatan penipuan persis dalam format ini, dan secara eksplisit menyebutkan tidak akan pernah meminta PIN atau kata sandi. Setelah dua jebakan, godaannya adalah menolak semuanya — itu juga tidak berhasil. Baik kepercayaan buta maupun kecurigaan total sama-sama tidak bisa diandalkan. Itulah masalah sebenarnya.
Di sini Anda sudah diperingatkan, tenang, di halaman yang memberi tahu ada tes. Pesan asli datang Selasa jam 6 sore, saat Anda sedang melakukan hal lain, dan tidak pernah memberi tahu dulu.
Lihat semua mekanisme manipulasi →
Baru saja terjadi pada Anda? Ini artinya →
"Nanti juga diganti sama bank"
Ini asumsi paling umum — dan paling tidak bisa diandalkan. Bank hanya wajib mengganti kerugian jika terbukti ada kelalaian di pihak bank. Tapi jika nasabah sendiri yang memberikan OTP atau kode kepada penipu — seperti pada penipuan berbasis manipulasi — bank tidak berkewajiban mengganti sama sekali, meski OJK tetap akan meninjau kasusnya.
Proses pengaduan, dalam praktiknya
Perbandingan langsung
Harga Egidio
Jika Anda yang menopang semuanya — anak-anak di satu sisi, orang tua yang menua di sisi lain — lihat mengapa mode Keluarga ada justru untuk posisi ini: generasi sandwich.
Kerugian akibat penipuan
Panggung ketakutan
Rekor yang tidak ada yang ingin memilikinya — dan mereka yang memilikinya pun tidak pernah menginginkannya.
Angkanya bukan intinya. Intinya adalah, setiap orang di atas, sehari sebelumnya, mengira hal ini hanya terjadi pada orang lain.
Hitungannya, dipaparkan
Kita ambil angka paling kuat yang tersedia — rata-rata resmi, bukan kasus ekstrem — lalu kita biarkan angka itu bicara.
Tahun perlindungan
Satu korban penipuan belanja online, dengan kerugian rata-rata Rp17 juta, setara dengan:
Rp17.000.000 ÷ Rp119.000 (paket Tahunan)Persentase yang dibalik
Dilihat dari sisi lain: paket Tahunan hanya setara
Rp119.000 ÷ Rp17.000.000 × 100Perlindungan untuk seluruh keluarga, seharga segelas kopi
Rp239.000 per tahun untuk 4 orang, itu setara Rp19.917 per bulan untuk seluruh keluarga (239.000 ÷ 12) — harga segelas kopi per bulan, dibagi untuk 4 orang. Orang tua Anda, sering kali paling rentan menjadi sasaran penipu, terlindungi dalam paket yang sama dengan Anda.
Untuk perbandingan harian: paket Tahunan setara sekitar Rp326 per hari (119.000 ÷ 365).
Dan kerugian rata-rata itu hanya bagian yang terlihat: lihat apa yang sebenarnya terjadi setelah penipuan — penggantian yang tidak pasti, birokrasi, waktu tunggu, dan peluang keadilan yang sebenarnya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Berapa harga Egidio?
Rp119.000 per tahun, Rp239.000 per tahun untuk mode
Keluarga (4 orang), atau Rp359.000 sekali bayar untuk paket Seumur Hidup (harga peluncuran).
Berapa kerugian rata-rata korban penipuan online di Indonesia?
Tergantung
jenis penipuannya. Untuk penipuan belanja online, kerugian rata-rata tercatat sekitar Rp17 juta
per korban (2026). Jenis lain, seperti skema investasi bodong, bisa mencapai jumlah yang jauh
lebih besar pada kasus-kasus individual yang terdokumentasi.
Mode Keluarga melindungi berapa orang?
4 orang dalam satu paket, seharga
Rp239.000 per tahun.
Ingin melindungi orang lain juga? Rekomendasikan mereka: 7 hari gratis untuk kalian berdua.